Kamis, 30 Mei 2013

Udang Red Cherry di Aquascape


Udang
Air tawar adalah pelengkap yang bagus untuk akuarium Aquascape karena berbagai alasan,  di antaranya memilki warna yang indah, udang Cherry adalah pemakan algae yang baik, dan mereka juga pemakan detritus (Sisa-sisa kotoran tanaman/hewan). Red cherry adalah udang yang mudah dirawat di akuarium air tawar di rumah dan dapat berkembang biak dengan baik.
Red Cherry akan beradaptasi dengan berbagai kondisi air, dan akan berkembang dalam kondisi yang sama seperti ikan akuarium pada umumnya. Cherry merupakan jenis udang air tawar dari Taiwan yang umum dipelihara dalam akuarium. Warna alami udang ini adalah hijau-coklat, namun warna motif merah lebih sering dijumpai.

Cherry adalah hewan omnivora yang dapat hidup 1-2 tahun. Udang menghabiskan banyak waktu duduk di tanaman air, dan bersembunyi di balik tanaman atau batu untuk perlindungan, terutama setelah molting. Mereka juga memakan algae film dan mikroorganisme, yang terbentuk pada daun tanaman tanpa merugikan tanaman itu sendiri. Java moss dan Java fern (Kadaka) keduanya tanaman yang sangat baik untuk tempat hidup udang, karena mereka berkembang dalam kondisi yang sama dengan udang cherry di habitat aslinya, serta  memberikan manfaat baik untuk udang selain itu juga memberikan penampil manusia dengan kontras visual menyenangkan dengan tubuh merah udang.


Red Cherry  merespon substrat dengan warna mereka. Jika mereka disimpan dalam sebuah tangki dengan substrat berwarna terang, mereka akan menjadi lebih pucat, atau bahkan transparan. Pada substrat gelap, mereka memiliki warna mereka menyala. Intensitas warna juga tergantung pada jenis makanan yang tersedia (makanan hidup dan mereka yang tinggi protein dan lemak lebih baik daripada makanan serpihan sisa daun), selain itu kondisi pH air, dan suhu juga berpengaruh.

Saya sangat merekomendasikan bahwa setiap pendatang baru di hobi aquascape air tawar memulai dengan Red Cherry Shrimp karena Red Cherry Shrimp adalah udang paling murah di hobi ini.

Sabtu, 07 April 2012

Mengapa Berbahaya Memasukan Fauna Saat Akuarium Baru DiSetUp

Sindrom Akuarium Baru (New Tank Syndrome)

Sindrom akuarium baru atau "new tank syndrome" merupakan peristiwa yang kerap dialami oleh mereka yang pertama kali berkenalan dengan "dunia" akuarium, yaitu berupa kematian ikan secara serentak pada akuarium yang baru di-"setup".  Tidak jarang sindrom ini menyebabkan para calon hobiis ikan hias jera, dan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya mundur dari hobi ini.  Sindrom akuarium baru, walaupun boleh dikatakan sebagai pembuhun ikan berdarah dingin, sebenarnya merupakan fenomena normal, sebuah fenomena alami. Sekali kita mengetahui penyebab sebenarnya dibalik peristiwa ini, maka kita akan sangat mudah menghindarinya.
Seperti diketahui, dalam suatu sistem akuarium yang baru dibangun lingkungannya boleh dikatakan masih steril.  Steril dalam arti belum ada bakteri yang tumbuh disana.  Pada saat bersamaan apabila pada periode ini ikan dimasukkan kedalamnya (apalagi dengan populasi relatif padat), maka ikan pada saat itu, sudah akan mulai memproduksi kotoran berupa: faeces, lendir dan hasil ekskresi lainnya.  Bahan-bahan ini pada dasarnya terdiri dari senyawa nitrogen yang kemudian akan membentuk amonia.
Amonia merupakan bahan yang bersifat sangat beracun bagi ikan.  Keracunan sudah akan terjadi pada konsentrasi amonia 0.01 ppm dan  pada level 0.1 ppm sudah akan menyebabkan kematian.  Pada akarium baru, bakteri pengurai amonia (yang akan mengubah amonia menjadi bentuk yang kurang berbahaya) belum tumbuh.  Oleh karena itu,  pada hari-hari awal akuarium baru, amonia akan berakumulasi hingga mencapai tingkat beracun bagi ikan yang hidup didalamnya.
Untuk menghindari kejadian diatas hal yang harus dilakukan adalah dengan membiarkan kondisi akuarium stabil dan siklus nitrogen didalam akuarium berjalan dengan baik.  Siklus nitrogen merupakan siklus tahapan nitrogen berubah bentuk dari satu bentuk ke bentuk lainnya (Gambar 1), sedangkan kondisi faktual perubahan nitrogen dalam sebuah sistem akuarium adalah seperti ditunjukkan pada gambar dibawah.


Tumbuhnya bakteri pengurai amonia didalam akuarium memerlukan waktu dari beberapa hari hingga beberapa minggu.  Dua jenis bakteri diketahui berperan dalam proses penguraian ini yaitu bakteri nitrosomonas (bakteri yang berperan dalam pengubahan amonium menjadi nitrit), dan bakteri nitrobakter (yaitu bakteri yang berperan dalam pengubahan nitrit menjadi nitrat).  Pertumbuhan bakteri nitrosomonas secara alamiah dipicu oleh kehadiran amonia sebagai sumber makanannya.  Sebelum bakeri ini tumbuh,  amonia akan terus berakumulasi dalam akuarium.   Apabila nitrosomonas mulai  tumbuh,  secara perlahan kadar amonia akan menurun.  Hal disebabkan karena amonia tersebut mulai dikonsumsi oleh bakteri nitrosomonas.  Laju penurunan selanjutnya akan ditentukan oleh laju perkembangan bakteri ini.  Pada saat nitrit terbentuk dan mulai berakumulasi, bakteri berikutnya (nitrobakter) mulai tumbuh dan mulai  mengkonsumsinya, serta menguraikannya menjadi nitrat.  Akibatnya nitrit yang berakumulasi akan menurun dan digantikan oleh peningkatan nitrat.  Secara grafis pola peningkatan  dan penurunan masing-masing bentuk nitrogen ini, kurang lebih adalah seperti gambar berikut.

 Siklus nitrogen didalam akuarium hanya terjadi sampai terbentuknya nitrat, sehingga pada akhirnya, tidak dapat dipungkiri, bahwa nitrat akan berakumulasi talam akurium.  Meskipun demikian nitrat, sampai tingkat tertentu, diyakini tidak berbahaya terhadap ikan.  Akan tetapi hal ini tetap harus menjadi perhatian para akuaris karena sampai pada tingkat tertentu tadi akan tetap memiki efek yang merugikan dan sering menimbulkan masalah pada akhirnya.  

Filter Biologi Dalam Aquascape

Filter biologi merupakan filter yang bekerja dengan bantuan jasad-jasad renik khususnya  bakteri dari golongan  pengurai amonia. Untuk itu agar jasad-jasad renik tersebut dapat hidup dengan baik di dalam filter dan melakukan fungsinya dengan optimal diperlukan media dan lingkungan yang sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan jasad-jasadrenik tersebut.
Fungsi utama dari filter biologi adalah mengurangi atau menghilangkan amonia dari air.  Seperti diketahui ikan melepaskan amonia (NH3 atau amonium, NH4) ke dalam air, terutama melalui insangnya.  Jumlah yang dikeluarkan tergantung dari banyaknya pakan yang dikonsumsi.  Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap 1 kg pakan akan menghasilkan 37 gram amonia. Dengan demikian dapat diperkirakan berapa banyak konsentrasi amonia yang akan dikeluarkan ikan setiap hari yang perlu dinetralisir oleh sebuah filter biologi.  Amonia juga dihasilkan oleh penghuni akuarium lainnya, termasuk bakteri, jamur, infusoria dan juga sisa pakan ikan.
Proses pemfilteran amonia dalam akuarium mengikuti hukum  mengenai peredaran unsur Nitrogen di alam.  Keterangan mengenai ini dapat anda peroleh pada bahasan mengenai AMONIA. Dengan memahami hal tersebut maka keberhasilan pengelolaan suatu filter biologi akan dapat dipastikan.  Sudah menjadi rahasia umum bahwa filtrasi biologi  merupakan bagian dari sistem filter akuarium yang kerap membuat frustrasi penggemar ikan hias baru, disamping itu  sering juga diabaikan atau terlupakan oleh para hobbiis berpengalaman, mereka baru menyadarinya apabila sesuatu hal yang buruk terjadi pada akuairum mereka dan itu adalah akibat tidak berfungsinya sistem filtrasi biologi pada akuarium mereka. 
Dua golongan bakteri memegang peranan utama dalam filter biologi, yaitu bakeri Nitrosomonas sp, dan bakteri Nitrobakter sp.  Nitrosomnas berperan mengoksidasi amonia  menjadi nitrit, sedangkan Nitrobacter berperan mengoksidasi nitrit menjadi nitrat.  Nitrosomonas dan Nirobakter hidup dengan melekatkan diri pada benda padat dalam akuarium, oleh karena itu agar keperluan hidup (tempat tinggal) mereka terpenuhi perlu disediakan tempat untuk melekatkan diri.   Segala jenis benda padat, selama itu tidak bersifat racun bagi si bakteri, akan dapat digunakan sebagai tempat tinggal bakteri tersebut.  Faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih "tempat tinggal"  atau media bagi bakteri adalah keterkaitannya dengan bidang kontak antara air dan bakteri.  Agar air dapat difilter dengan baik oleh bakteri maka air tersebut perlu kontak dengan bakteri yang bersangkutan.  Oleh karena itu, pemilihan media harus memperhitungkan luas bidang kontak ini.  Semakin luas bidang kontak maka akan semakin efektif filtrasi biologi berlangsung.
Luas bidang kontak berhubungan erat dengan ukuran media yang digunakan.  Secara umum dapat dikatakan bahwa persatuan volume,  media yang mempunyai ukuran butiran lebih kecil akan memiliki luas bidang kontak atau luas permukaan lebih besar. Berikut adalah ilustrasi sederhana hubungan antara ukuran butiran dengan luas permukaan, atau luas bidang kontak.  Untuk mempermudah ilustrasi digunakan benda berbentuk kubus:

Apabila kita punya sebuah kubus dengan panjang sisi-sisinya 1m maka, luas permukaan kubus tersebut adalah 6 m2, sedangkan volumenya adalah 1m3 Kalau kita belah, kubus tersebut jadi 2, maka luas permukaannya bertambah 2 m2, sehingga total luas permukaan= 8 m2, sedangkan volume tetap. Kalau dibelah lagi secara melintang luas permukaannya bertambah lagi 2 m2. Kalau dibelah lagi secara horiontal maka luas permukaan bertambah lagi 2m2. jadi total adalah 12 m2sedangkan volume total kubus tetap 1m3; dan kubusnya sekarang menjadi 8 buah,  masing dengan ukuran 0.5 m. Dengan cara yang sama dapat kita hitung seandainya kubus tersebut dibagi sehingga masing-masing berkukuran 1cm. Maka dengan mudah bisa kita ketahui dalam volume 1 m3, akan kita dapatkan 100x100x100=1000000 kubus. Masing-masing kubus tersebut luas permukaannya adalah 6x1 cm2=6 cm2. Sehingga luas permukaan totalnya adalah 1000000 x 6 cm2 = 6000000 cm2 atau sama dengan 600m2; Kalau kubusnya berukuran 1mm maka luas permukaannya dalam 1m3adalah 6000m2.
Dengan ilustrasi tersebut anda sekarang sudah akan lebih mudah dalam menentukan ukuran butiran yang akan digunakan untuk media sebuah filter biologi.  Semakin kecil butiran akan semakin luas luas permukaan sehingga akan semakin luas bidang kontak antara air dan bekteri yang hidup pada permukaan tersebut.  Meskipun demikian, kalau kita kembali pada prinsip sebuah filter mekanik, maka akan terdapat kecenderungan bahwa filter dengan butiran halus ini akan cepat tersumbat.  Untuk menghindari hal tersebut  maka diperlukan sebuah filter mekanik yang baik yang dipasang sebelum filter biologi. Dengan demikian, air yang masuk kebagian filter biologi sudah merupakan air prefilter, yaitu air yang sebelumnya telah difilter terlebih dahulu secara mekanik sehingga tidak lagi mengandung partikel-partikel padat yang akan menyumbat.  Beberapa produsen asesori akuarium telah membuat media filter yang diharapkan dapat mengatasi terjadinya proses penyumbatan, seperti:  cicin(tabung) keramik atau bioball, meskipun demikian bahan-bahan ini memiliki korbanan berupa berkurangnya luas permukaan bidang kontak.  
Secara umum dapat dikatakan bahwa filter biologi bukan merupakan hal yang sulit.  Selama anda faham bagaimana bakteri tersebut hidup dan berkembang, serta apa yang diperlukan sebagai media hidupnya, maka anda akan berhasil dalam mengelola sebuah filter biologi, bahkan dengan menggunakan bahan-bahan yang ada dan mudah didapat (dan murah) di sekitar tempat tinggal anda.
http://o-fish.com/Filter/FilterBiologi.htm

Berbagai Teknik Filtrasi Aquarium

Filter terbagi dalam beberapa macam :
1. Mekanik
2. Biologi
3. Kimia

1. Mekanik
     Filter Mekanik, Filter yang menyaring kotoran padat (daun, kotoran ikan, sisa makanan) tanpa mengolah kandungan kimia dalam air. Filter ini dapat menggunakan kapas, ijuk, filter mate, brush, dll.
2. Biologi
     Kotoran ikan, sisa makanan dan tanaman yg membusuk, mengeluarkan zat ammoniak yang  sangat berbahaya untuk kelangsungan hidup udang & ikan, namun zat ammoniak ini dapat dirubah menjadi zat nitrat yang tidak berbahaya yang dibutuhkan oleh tanaman. Perubahan zat ammoniak menjadi zat nitrat ini diperlukan bakteri Nitrosomonas dan bakteri Nitrobakter. Bakteri tersebut  merupakan tulang punggung filter biologi. Dalam pemeliharaannya diperlukan media Bio Ball, Bio Ring dll sebagai tempat hidup bakteri tsb.
3.Filter Kimia
    Filter kimia menghilangkan zat yang berbahaya dan terkandung dalam air dengan mengguinakan bahan kimia/ kimiawi dasar seperti Zeolit, carbon aktif, dll.
Zeolit adalah batu alam yang diolah / dimasak dengan mengandung hydrated silicates calcium, aluminium, sodium, dan potassium. Zeolit dapat menyerap kandungan ammoniak dengan cara mengikat ion-ion ammoniak ke dalam pori-porinya. Tetapi ion-ion ammoniak tsb dapat terlepas kembali bila zeolit terkena garam, oleh karena itu pada saat pengobatan dgn menggunakan garam, hendaknya mengangkat zeolitnya terlebih dahulu.
Carbon aktif mempunyai sifat menetralisirkan air dengan cara yang hampir sama dengan zeolit, tetapi carbon actif lebih mengikat pada kandungan zat zat kimia lainnya selain ammoniak, seperti: Kaporit, sulfur, dll.
Perlu diperhatikan, angkatlah carbon aktif pada saat menggunakan bahan kimia untuk pengobatan pada ikan anda karena  kimiawi dari obat tersebut akan terserap oleh carbon aktif dan pengobatan pada ikan anda menjadi sia-sia.
Idealnya Carbon Aktif diganti setiap 6 bulan sekali.

Pada penyaringan dengan filter, perlu ditempatkan penyaringan kasar terlebih dahulu , sebelum yang halus untuk mengurangi kemungkinan penyumbatan pada system filter.

Urutan yang baik adalah sebagai berikut:
Mekanik kasar--Mekanik halus--Bio Ball/Bio Ring (Bakteri)--Zeolit (Kimia)--Arang(Karbon aktif (Kimia).

(Disadur dari : http://pets.groups.yahoo.com/group/ikan_hias/message/6183 )

Jumat, 16 Desember 2011

ADA Wabikusa


Belum lama ini ADA meluncurkan produk barunya yaitu ADA wabi-kusa, serta mereka memperkenalkan metode baru dalam aquascape yaitu menanam tanaman dengan teknik wabi-kusa.

Teknik ini akan sangat memudahkan dalam beraquascaping, karena kita hanya tinggal menaruh wabi kusa didalam aquarium aquascape pembahasan mengenai pembuatan ada wabi kusa ada disini

Minggu, 22 Mei 2011

Algae Eater

Dalam aquascape ancaman yang paling utama adalah algae berikut adalah daftar algae eater/pemakan algae terbaik :

1. Ottocinclus

Most wanted Algae Eater!
Yup itulah ottociclus, kemampuannya untuk menyikat berbagai jenis alagae menjadikannya primadona dalam jajaran cart algae eater.. selain tubuhnya yang amat mungil ikan ini dikenal sebagai satu-taunya ikan yang shrimp-friendly sehingga dapat di pelihara bersama dalam akuarium udang.
Untuk memelihara ikan ini sangat mudah, jika tidak ada algae cukup memberikan mentimun saja
Sayang nya udang ini sulit untuk didapat dan harganya cukup mahal sekitar Rp.10rb-25rb. karena masih harus mengimpor dari S. Amazon, Brazil

2. Udang Amano 
Udang dari Jepang yang ditemukan T.Amano ini cukup sadis dalam melibas algae.. namun perlu diperhatikan bahwa udang ini memerlukan suhu yang dingin dan algae, tanaman, serta tempat berlindung yang cukup agar dia tidak jalan2 keluar aquarium.

Harganya relatif mahal dan sukar didapat karena masih mengimpor dari Jepang. Udang ini membutuhkan air payau dalam proses penetasan telurnya.

3. SAE (siamese algae eaterr) dan CAE (Chinese Algae Eater)



Ikan yang cukup handal.. sama seperti otto namun dia memiliki kebiasaan yang buruk.. karena cukup teritorial dia akan mengganggu siapa saja yang mendekat didaerahnya,, selain tubuhnya besar gerakannya juga cepat dan sulit ditangkap.. cara terbaik menangkapnya adalah menangkapnya terus sampai dia lelah..

Jika ikan ini sudah cukup besar maka akan menjadi pemalas.. kelebihanya adalah harga yang murah dan mudah didapat.

4. Udang CRS (Crystal red Shrimp) dan Udang RCS(Red Cherry Shrimp) 






Selain sebahgai penghias akuarium udang rcs dan crs adalah algae eater yang handal jika dipelihara dalam jumlah banyak.

 5. Keong Turbo
pembersih yang handal dikaca.. namun ia suka meninggalkan telur yang menempel di kaca

Eco Pico Aquascape Tutorial

 

Berikut adalah video tutorial aquascape dengan Eco Pico System dari ecoxotic sayangnya mereka menggunakan tanaman plastik. Lampu yang mereka gunakan adalah jenis LED